the monster inside me

belakangan ini…
hidupku rasanya makin kacau…
bukan kacau gara-gara broken home, apalagi putus cinta…
maksudku tuh, hari-hariku rasanya makin mawut dan gak beraturan aja..
ngerjain tugas gak beres-beres, padahal deadline makin mencekik…
lalu aku merenung…(cailah)
jangan-jangan gara-gara aku kebanyakan dosa ya, makanya segala hal yang aku kerjain gak ada yang lancar
aku baru nyadar waktu salah seorang temenku yang berhati nurani dan suka dengan jujurnya nyeletuk “jahat!” pada setiap kemungkaran yang dia lihat, belakangan semakin sering nyeletuk “jahat!” atas hal-hal yang aku katakan.
aku jadi mikir.
jangan-jangan iya,
memang belakangan aku merasa semakin tidak berhati nurani dan suka ngomong seenaknya. kalau seminggu lalu, aku bisa berdalih ‘kan aku lagi dapet, wajarlah kalo emosian…’ pada diri sendiri,
sekarang udah selesai, dan aku masih gitu…
aku gak punya pembelaan lagi.
jadi, oke, meskipun aku gak tahu kenapa aku berubah begini (atau jangan-jangan memang aku dari dulu begini?), anggaplah ada monster dalam diriku yang belakangan makin berkuasa menjajah akal sehatku. anggaplah, kalau aku sudah mulai berkata-kata kasar dan nyelekit, si monster ini sedang beraksi menguasai lidahku. anggap saja begitu.
oke, mungkin gak adil, sok-sok mencari kambing hitam atas kesalahan sendiri. tapi pada dasarnya kan, semua orang pasti punya sisi baik dan sisi buruk. jadi, gak sepenuhnya juga aku melemparkan kesalahan ini ke kambing lain. maksudku gini, kalau si monster itu adalah, anggaplah, perwujudan sisi buruk diriku, maka, yang jadi kambing hitam di sini adalah bagian dari diriku sendiri juga kan?
singkatnya, buat- semua teman-teman, buat semua orang yang kebetualan pernah menjadi korban si monster, aku minta maaf ya,
aku gak mau terus-terusan gak enak hati, membatin, “si itu sebenernya mikirin kata-kataku banget gak sih?” dan aku jadi suudzon mikir semua orang gak suka sama aku.
maaf ya, sekali lagi, kalau sikapku ada yang bikin kalian jengkel, biarpun cuma sedikit.
maaf.

anyway, buat temanku itu, don’t be offended, aku gak maksud nyindir atau apapun yang nyrempet-nyrempet itu. aku meng-highlight sikapmu di sini cuma untuk latar belakang aja. makasih ya, udah ngingetin aku,

sometimes, being hones and hurting is better than being dishonest and then stabbing someone else’s back.