Posts Tagged ‘foolishness’

h1

kampanye pemilu…

April 3, 2009

gak mau ngomong soal politik kok, toh aku gak ngedong juga

cuma mau komentar, kemaren itu, aku diajak ibuku ikutan kampanye partai sesuatu, dan yang bikin kaget, ternyata ada upahnya!!!!

dipikir-pikir, masuk akal juga sih, wong demo aja ada yang dibayar… tapi… aku baru tahu, kalo liat ada  acara rame-rame kampanye yang suka ditayangin di berita-berita itu bukan seratus persen para partisipannya aja yang ikut nonton dan sorak-sorak ya,

ternyata, demi uang beberapa puluh ribu… mereka rela panas-panasan, desek-desekan, ditingkahi musik dangdut…

astaga…

balik lagi, ke soal ajakan tadi, jelas lah, aku tolak,

soalnya, beberapa jam sebelumnya, di kelas mekanika teknik, dosenku udah wanti-wanti

pokoknya kalo saya sampe ketemu ada mahasiswa saya yang ikutan kampanye, bakal saya kasih nilai e nanti…

khekhekhe…

bicara soal kampanye dibayar

ternyta, tetangga-tetanggaku itu kebanyakan kalo ikutan kampanye emang cuma biar dapet imbalan

ada partai a orasi sambil bagi-bagi sembako, rame-rame ikutan

ada partai b kampanye bagi-bagi duit, berbondong-bondong ikutan

dan sebagainya…

ternyata…

omong-omong soal pemilu

udah pada tahu mau nyontreng apa?

bingung nih, banyak banget orangnya

kasihan para simbah-simbah yang penglihatannya udah gak oke…

bisa-bisa gak luber jurdil ntar…

h1

oh astaga, nasib anak kuliahan

March 18, 2009

hauuu, grau-grauuuu…

sebal

inilah tahapan pendididkan paling gak diplomatis, menurutku

maksudku, oke, kita memang dibebasin milih mata kuliah dan segala macem, boleh bolos–asal presensi masih 70%, boleh pake kaos, sandal, sesuka-suka

tapi justru karena itu, gak ada aturan pasti dan batasan yang jelas mengenai apa yang boleh, apa yang enggak. semua tergantung suasana hati, dalam hal ini, dosen.

haiya, jaman s3 dulu–sd, smp, sma–semua ada aturannya, jelas. soal tata tertib, aturan tugas-tugas, gak ada yang ambigu. kalo gak boleh telat, ya gak boleh. tugas dikumpulin hari ini, ya hari ini.

tapi, sekarang…

jadi begini ceritanya,

suatu hari rabu yang tidak cerah ceria–karena tugas sebelumnya belum kelar tapi terpaksanya dikumpulin karena udah males nglanjutin– di ruang studio, seorang dosen memberikan penjelasan mengenai tugas yang harus dikerjakan selama 2 minggu ke depan. tugasnya ialah membuat desain sebuah shelter pengungsian dengan tor bla-bla-bla. intinya meski itu sebuah rumah pengungsian yang sifatnya cuma semi-permanen, tetap harus memperhatikan estetika dan sejenisnyaaa….

lalu

pada hari jumat, hari braistorming alias nyari konsep, paknya mengajukan sedikit sekali usulan dalam bimbingan singkatnya

salah satunya yang paling kuingat

…segitiga, segitiga adalah bentuk yang paling stabil dan paling simpel. buatlah dari bentuk dasar segitiga…

dan ada juga ini

…pokoknya kalau kalian mau buat yang gampang-gampang sajalah, yang bahannya mudah didapat. lagipula ini kan konteksnya dalam keadaan bencana, mana mungkin orang bisa dapat fiber atau polikarbonat dalam keadaan darurat…

maka kamipun mulai melamun mencari ide…

ngggnggg…

hmmm…

apa yaaa???

hari rabunya kami datang dengan konsep masing-masing, ada yang masih berupa sketsa, ada yang sudah berupa maket kasar…

lalu paknya masuk studio

gimana? tanya beliau, lalu kami masing-masing presentasi…

stefani: saya buat begini pak (sembari menunjukkan maket berupa kerangka berbentuk tenda ala indian dari tusuk sate, limas segi delapan)

bla-bla-bla…

paknya: wah, ndak bisa itu, terlalu rumit… (dan menjelaskan berbagai alasan, memberi contoh sederhana seperti rumah kecil seperti pos ronda)

anggi: kalau saya begini pak…(menunjukkan sketsa bangunan berbentuk tabung dibelah membujur lalu dibaringkan)…

bla-bla-bla…

paknya: waah, ini konstruksinya ndak bener ini…(memberikan berbagai macam alasan, dan contoh alternatif yang sama dengan yang diberikan pada stef)

dan beitu seterusnya, berlanjut pada seluruh anggota kelompok studioku, temasuk padaku, yang hanya menunjukkan maket sederhana berbentuk tenda konvensional yang terdiri dari dua buah bambu yang disilangkan membentuk dome), dibilang apa? yap, telalu rumit.

kami sekelompok cuma bisa melongo-mengangguk-angguk, anggi sempet ngeyel sih, tapi paknya malah dengan pedasnya bilang,

…nggak bisa, itu logikanya nggak masuk. coba kamu benerin dulu, logikamu itu…

zzzzz….

intinya adalah, paknya menginstruksikan kami untuk membuat bentuk-bentuk sederhana yang mudah dibuat, bahannya mudah didapat, gak neko-neko.

yang hanya bisa membuat kami sekelompok gigit jari, sementara anak-anak kelompok lain dengan sukaria sedang mengerjakan maket yamg bentuknya lucu-lucu dan unik-unik dan inovatif dan progresif dan dinamis dan kreatif dan sebagainya…

kami harus kembali temangu-mangu memikirkan konsep baru…

alhasil kami sekelompok membuat maket sejenis, setipe, sewarna,

semuanya berbentuk seperti rumah konvensional

meskipun ada juga yang agak bagus

tapi bukan aku, jelas…

punyaku malah dibilang kayak rumah jangkrik sama ibuku sendiri…

hiks… T_T

sebegitu parahnya kreativitasku…

ini adalah bukti nyata bahwa arsitektur itu relatif

semoga kelak aku lebih bisa menerima kenyataan ini dengan legowo… bahwa gak semua orang punya selera yang sama… tingkat pemahaman yang sama…

____kok tulisanku gak nyambung ya?

mbuhlah… maklum, habis begadangan semalam, tidur jam empat…

nyawa agak mengambang…

h1

kena razia di vredeburg

February 27, 2008

kemaren minggu sekelasku pada foto-foto buat buku tahunan di daerah nol kilometer gitu deh. ngambil temanya travelling soalnya. rencananya sih selain di situ kita juga mau ngambil di tugu sama di guest house-nya temenku.

jadi, waktu kemaren itu, abis giliran foto udah lewat kan terus gak ada kerjaan tuh, mana hawanya kan juga panas gitu. akhirnya ku dan beberapa temenku nyoba ‘ngeyup’ di wilayah monumen serangan oemoem 1 maret (kebetulan pintunya dibuka). Terus kita foto-foto gitu deh. Si aming malah sempet pasang tenda lipat segala

tau-tau ada bapak-bapak berseragam ijo ala hansip dateng, nanyain kita lagi ngapain, dari mana. kebetulan waktu itu lagi ada anak sekolahan dari luar kota lagi study tour. Kita bilang aja “dari jauh pak!”. Huehehe…. diusir deh kita, katanya, ” kalo mau liat aja sih gak apa-apa mbak, tapi kalo mau foto-foto harus bilang saya dulu ya,…”

yaaah, maap deh pak hansip, kita kan gak tauuuk……