Posts Tagged ‘events’

h1

kampanye pemilu…

April 3, 2009

gak mau ngomong soal politik kok, toh aku gak ngedong juga

cuma mau komentar, kemaren itu, aku diajak ibuku ikutan kampanye partai sesuatu, dan yang bikin kaget, ternyata ada upahnya!!!!

dipikir-pikir, masuk akal juga sih, wong demo aja ada yang dibayar… tapi… aku baru tahu, kalo liat ada  acara rame-rame kampanye yang suka ditayangin di berita-berita itu bukan seratus persen para partisipannya aja yang ikut nonton dan sorak-sorak ya,

ternyata, demi uang beberapa puluh ribu… mereka rela panas-panasan, desek-desekan, ditingkahi musik dangdut…

astaga…

balik lagi, ke soal ajakan tadi, jelas lah, aku tolak,

soalnya, beberapa jam sebelumnya, di kelas mekanika teknik, dosenku udah wanti-wanti

pokoknya kalo saya sampe ketemu ada mahasiswa saya yang ikutan kampanye, bakal saya kasih nilai e nanti…

khekhekhe…

bicara soal kampanye dibayar

ternyta, tetangga-tetanggaku itu kebanyakan kalo ikutan kampanye emang cuma biar dapet imbalan

ada partai a orasi sambil bagi-bagi sembako, rame-rame ikutan

ada partai b kampanye bagi-bagi duit, berbondong-bondong ikutan

dan sebagainya…

ternyata…

omong-omong soal pemilu

udah pada tahu mau nyontreng apa?

bingung nih, banyak banget orangnya

kasihan para simbah-simbah yang penglihatannya udah gak oke…

bisa-bisa gak luber jurdil ntar…

h1

the chronicles of lebaran

October 6, 2008

inilah misteri tak terduga yang senantiasa menderaku tiap tahunnya. mengenai betapa niat yang baik tak selalu diiringi jalan yang mulus. sungguh sebuah ironi ketika orang yang ingin berbuat baik justru menderita di tengah jalan (cailaah, bahasanya, kebanyakan baca laskar pelangi nih!). inilah kenyataan pahit yang harus kukecap, yang entah karena kebetulan macam apa, ada saja hubungannya dengan even akbar tahunan: lebaran.
mari kita flashback beberapa tahun. seingatku, rentetannya dimulai dua tahun lalu, ramadhan pas aku kelas dua sma. malam itu malam takbiran, seharusnya jadi malam yang syahdu ditingkahi kumandang takbir yang diseru segenap muslimin dan muslimah, tua maupun muda, di seluruh penjuru negeri. niatku sebenarnya sederhana saja seperti tahun-tahun sebelumnya: mengiringi anak-anak kecil di kampungku bertakbir keliling.
ini bukan hipos atau sok puitis, tapi pada dasarnya aku memang selalu senang mendengar gema suara takbir seperti ini setiap tahunnya. menutku even semacam takbir keliling seperti ini memang benar-benar pas untuk menyambut hari raya. benar-benar menggambarkan kegembiraan yang meruah atas kemenangan kita, kemenangan melawan musuh terberat kita: diri kita sendiri, yang dicokoli segala hawa nafsu dan emosi. senang mendengar riuhnya anak-anak kecil mengumandangkan seruan takbir, yang entah mereka pahami benar makananya atau tidak. yang penting bagi mereka adalah meneguhkan diri menyandang oncor dan segala macam lampion; dari yang berbentuk masjid berhias lampu warna-warni sampai onta raksasa yang benar-benar ditunggangi orang sungguhan (yang satu ini biasanya diletakkan di atas gerobak dan didorong/ditarik oleh para remaja atau orang-orang dewasa), dan berseru sesemangat mungkin mengumandangkan takbir, supaya gerombolannya memenangkan lomba takbir keliling. senang melihat antusiasme orang-orang menyambut hari raya berjejalan menontoni kami dari pinggiran jalan. senang mengetahui bahwa semangat kami tak pernah surut untuk melestarikan even tahunan penuh keriaan ini, betapapun sulitnya medan yang harus kami lewati, betapa pun ruwet dan ribetnya (karena jalanan macet) rute yang harus kami lalui, betapa pun tak bersabatnya cuaca. sekali senang, tetap senang, senang, senang.

Allahuakbar, Allahuakbar,
Laailaha ilallahu allahu akbar,
Allahuakbar, walillahilhamd…

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar,
Tiada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar,
Allah Mahabesar, dan segala puji hanya milik Allah…

benar-benar bikin merinding ya? kenyataannya, malam itu aku memang merinding betulan. bukaaan, bukan karena meresapi makna kalimat itu, tapi karena di tengah jalan badanku mendadak meriang.
aku tahu, badanku memang gak beres dan gampang sakit karena aku sering malas makan, terutama kalau gak suka lauknya ;p. dan kalau sakit datangnya memang suka dadakan dan di saat-saat tak diinginkan (kalau pas butuh banget alasan, badan malah segar bugar sehat wal afiat). tak terkecuali malam itu, saat aku dengan niatan tulus ikhlas (ho-o po? tenane…) berangkat dari rumah untuk menempuh ritual tahunan itu. tahu-tahu, belum juga sampai setengah rute, mataku berkunang-kunang dan tulang-tulangku rasanya mau mrotoli. untungnyaaa, masih bisa jalan terus sampai selesai. kalau gak, bisa mati malu kalau besoknya tersebar berita ada cewek pingsan karena gak kuat jalan mengiringi takbir keliling anak-anak di kampungnya.
besoknya, pas lebaran, pas mau berangkat mudik, baru terkuaklah misteri sebenarnya. penyakit macam apa yang tega mendera diri insan fitri yang baru saja merasa dirinya meraih kemenangan di hari raya itu. penyakit itu adalah yang dulu sempat mewabah dan menimbulkan kehebohan besar di seluruh dunia akibat banyaknya korban jiwa yang diakibatkannya. meskipun demikian kini telah ditemukan vaksinnya dan bahkan telah sejak lama negeri ini dicanangkan bebas dari ancamannya. tak lain tak bukan adalah varicella, alias cacar air, atau lebih kukenal sebagai: cangkrangen. ketularan siapa lagi kalau bukan makhluk tengil yang entah bagaimana ditakdirkan sebagai adikku itu.
sudah jadi kepercayaan turun-temurun di daerahku, kalau orang memang harus kena cacar sekali seumur hidup agar bisa kebal terhadapnya. sekali kena, gak bakal bisa ketularan lagi. kebanyakan orang bilang, semakin muda usia saat dia kena cacar, semakin baik, karena tak terasa sakitnya (beberapa tahun kemudian aku baru menyadari ketololan kalimat terakhir ini dan merasa bodoh karena percaya). waktu makhluk tengil itu sakit pas bulan ramadhan, aku sih santai-santai saja karena ibu bilang aku pernah kena cacar waktu masih bayi. nyatanya?
sampai sekarang aku tak pernah tahu, ibuku yang bohong atau tubuhku yang mengalami anomali. yang manapun yang benar toh gak penting juga. yang jelas. kena penyakit semacam ini di saat yang seharusnya jadi momen perayaan yang sudah lama ditunggu, deritanya jadi terasa berlipat.
apalagi mami dan babe tercinta keukeuh memaksaku tetap ikut mudik ke purworejo, walau dengan keadaan memalukan dan agak membahayakan orang lain ini. di mana-mana orang kalau sakit macam ini disuruh tinggal saja dirumah kan? diam di kamar, bahkan tak usah mandi, biar cepat sembuh dan tak menulari yang lain.
karena jengkel plus badan yang ngilu semua, aku jadi uring-uringan di sana. iyalah, tiap hari harus menghadapi ledekan sepupu-sepupu dan segenap handai taulan yang datang berkunjung ke rumah simbah. aku pun ngambek, gak mau keluar kamar, gak mau makan kecuali roti buat minum obat–perlu dicatat bahwa cacarku ini juga menyebar sampai tenggorokan, entah bagaimana, pokoknya rasanya perih buat makan.
akibatnya-untuk yang pertama kali seumur hidupku-aku pingsan di suatu pagi. sodara-sodara bilang tingkahku menyeramkan. aku merosot di kusen pintu sambil mendelik-mendelik. kenyataannya yang aku rasakan adalah, kepalaku pusing, pandanganku mengabur sampai akhirnya gelap total, padahal aku yakin aku masih sadar seratus persen. aku mendelik-mendelik karena aku panik, yang terburuk terlintas di kepalaku-bodohnya–adalah aku mendadak buta karena cacarnya merambat sampai ke mata (kalau merambat sampai tenggorokan saja bisa, kenapa gak mata juga?).
parah banget deh, ya sakitnya, ya malunya.
syukurnya cacarku ini hampir tak berbekas kecuali satu di pipi kanan dan beberapa di bagian yang tertutup, seperti di punggung. hikmahnya apa ya?
yah paling gak, aku bisa bersyukur karena aku cuma jadi buruk rupa sementara karena cacar. sementara pada saat yang bersamaan, salah seorang saudara jauhku jadi buruk rupa permanen karena tubuhnya terbakar, bahkan tak lama kemudian akhirnya dia meninggal. seram juga. semoga, semoga nasibku tidak setragis itu. alhamdulillah, sakitku masih tergolong bisa sembuh, hampir seperti semula malah.
next: mami sakit dan another ‘ashaming disease’.