Archive for the ‘susahnya sekolah’ Category

h1

oh astaga, nasib anak kuliahan

March 18, 2009

hauuu, grau-grauuuu…

sebal

inilah tahapan pendididkan paling gak diplomatis, menurutku

maksudku, oke, kita memang dibebasin milih mata kuliah dan segala macem, boleh bolos–asal presensi masih 70%, boleh pake kaos, sandal, sesuka-suka

tapi justru karena itu, gak ada aturan pasti dan batasan yang jelas mengenai apa yang boleh, apa yang enggak. semua tergantung suasana hati, dalam hal ini, dosen.

haiya, jaman s3 dulu–sd, smp, sma–semua ada aturannya, jelas. soal tata tertib, aturan tugas-tugas, gak ada yang ambigu. kalo gak boleh telat, ya gak boleh. tugas dikumpulin hari ini, ya hari ini.

tapi, sekarang…

jadi begini ceritanya,

suatu hari rabu yang tidak cerah ceria–karena tugas sebelumnya belum kelar tapi terpaksanya dikumpulin karena udah males nglanjutin– di ruang studio, seorang dosen memberikan penjelasan mengenai tugas yang harus dikerjakan selama 2 minggu ke depan. tugasnya ialah membuat desain sebuah shelter pengungsian dengan tor bla-bla-bla. intinya meski itu sebuah rumah pengungsian yang sifatnya cuma semi-permanen, tetap harus memperhatikan estetika dan sejenisnyaaa….

lalu

pada hari jumat, hari braistorming alias nyari konsep, paknya mengajukan sedikit sekali usulan dalam bimbingan singkatnya

salah satunya yang paling kuingat

…segitiga, segitiga adalah bentuk yang paling stabil dan paling simpel. buatlah dari bentuk dasar segitiga…

dan ada juga ini

…pokoknya kalau kalian mau buat yang gampang-gampang sajalah, yang bahannya mudah didapat. lagipula ini kan konteksnya dalam keadaan bencana, mana mungkin orang bisa dapat fiber atau polikarbonat dalam keadaan darurat…

maka kamipun mulai melamun mencari ide…

ngggnggg…

hmmm…

apa yaaa???

hari rabunya kami datang dengan konsep masing-masing, ada yang masih berupa sketsa, ada yang sudah berupa maket kasar…

lalu paknya masuk studio

gimana? tanya beliau, lalu kami masing-masing presentasi…

stefani: saya buat begini pak (sembari menunjukkan maket berupa kerangka berbentuk tenda ala indian dari tusuk sate, limas segi delapan)

bla-bla-bla…

paknya: wah, ndak bisa itu, terlalu rumit… (dan menjelaskan berbagai alasan, memberi contoh sederhana seperti rumah kecil seperti pos ronda)

anggi: kalau saya begini pak…(menunjukkan sketsa bangunan berbentuk tabung dibelah membujur lalu dibaringkan)…

bla-bla-bla…

paknya: waah, ini konstruksinya ndak bener ini…(memberikan berbagai macam alasan, dan contoh alternatif yang sama dengan yang diberikan pada stef)

dan beitu seterusnya, berlanjut pada seluruh anggota kelompok studioku, temasuk padaku, yang hanya menunjukkan maket sederhana berbentuk tenda konvensional yang terdiri dari dua buah bambu yang disilangkan membentuk dome), dibilang apa? yap, telalu rumit.

kami sekelompok cuma bisa melongo-mengangguk-angguk, anggi sempet ngeyel sih, tapi paknya malah dengan pedasnya bilang,

…nggak bisa, itu logikanya nggak masuk. coba kamu benerin dulu, logikamu itu…

zzzzz….

intinya adalah, paknya menginstruksikan kami untuk membuat bentuk-bentuk sederhana yang mudah dibuat, bahannya mudah didapat, gak neko-neko.

yang hanya bisa membuat kami sekelompok gigit jari, sementara anak-anak kelompok lain dengan sukaria sedang mengerjakan maket yamg bentuknya lucu-lucu dan unik-unik dan inovatif dan progresif dan dinamis dan kreatif dan sebagainya…

kami harus kembali temangu-mangu memikirkan konsep baru…

alhasil kami sekelompok membuat maket sejenis, setipe, sewarna,

semuanya berbentuk seperti rumah konvensional

meskipun ada juga yang agak bagus

tapi bukan aku, jelas…

punyaku malah dibilang kayak rumah jangkrik sama ibuku sendiri…

hiks… T_T

sebegitu parahnya kreativitasku…

ini adalah bukti nyata bahwa arsitektur itu relatif

semoga kelak aku lebih bisa menerima kenyataan ini dengan legowo… bahwa gak semua orang punya selera yang sama… tingkat pemahaman yang sama…

____kok tulisanku gak nyambung ya?

mbuhlah… maklum, habis begadangan semalam, tidur jam empat…

nyawa agak mengambang…

h1

aye-aye, captain!

August 30, 2008

umm, udah selesai ya? beneran? infantri 2008 udah selesai? yeeeeiiiiiii!!!!

beneran, waktu ngejalaninya itu, serasa bertahun-tahun; pas malam hari tiba buat ngerjain tugas, jam serasa berputar ngebut; dan begitu semua ini udah selesai, rasanya kok baru sekejap mata.

kronologisnya sih gak gitu inget secara rinci ya, secara, selama seminggu itu rasanya isinya cuma tugas, tugas, dan tugas. yang jelas, semuanya dimulai di hari sabtu, 16 agustus. kita semua anak-anak baru di fakultas teknik dikumpulin di kantor pusat tata usaha yang ajaibnya bisa muat buat ber-1700-an lebih, dibarisin per prodi. pas aku liat barisanku, uoo, ceweknya banyak bangeeet… canteek-canteek pula, jadi minder nih. sementara barisan di sampingku, wuaa, isinya cowok semua. ya iyalah, teknik mesin gitu, jumlah ceweknya aja bisa diitung pake jari sebelah tangan. dari situ, kita dikasih pengarahan secara umum tentang tata cara dan aturan-aturan di infantri 2008–oya, infantri artinya inisiasi fakultas teknik untuk negeri. habis itu, kita disuruh nyari sendiri kelompok kita, yang daftarnya udah di tempel di pilar-pilar di seluruh penjuru lantai satu gedung itu. agak ribet ya, secara ada 40 kelompok-atau di sini disebut yonif. jadilah kita desek-desekan, lari-larian, soalnya ada batas waktunya.

setelah agak mumet muter-muter gedung dari pilar ke pilar, akhirnya ketemulah daftar yang memuat namaku. aku masuk yonif 35, namanya sintuwu, barengan salah satu temen sekelasku di sma, si alina. tapi di kelompok ini sama sekali gak ada anak yang satu prodi sama aku, palingan ada anak pwk yang satu jurusan dan satu gedung sama aku. dan mereka beramai-ramai, ada 6 kalo gak salah. kebanyakan sih, anggotanya dari teknik industri, termasuk si alina itu. lalu kita dikumpilin di suatu tempat, lalu berkenalan satu sama lain, juga dengan pemandu kita, mas taufan dan mbak rika (njawa banget ya, pakai mas-mbak).

dan lalu tiba waktunya dikasih tugas. astaga, banyak juga ya, padahal ospeknya baru mulai tanggal 20, dan katanya, selama jangka waktu 4 hari itu bakal ada update tugas baru tiap harinya. waduh, bisa selesai gak ya? jadilah, sore itu kita langsung ngumpulin duit dan buru-buru belanja bahan-bahannya.

hari-hari berikutnya aku hampir gak inget lagi. pokoknya, seperti yang aku tulis tadi, isinya tugas melulu. rumahnya della berasa udah jadi rumah ke dua, habisnya dari pagi sampai malam aku di situ terus buat ngerjain tugas. tugas yang ini belum selesai, muncul update tugas baru yang itu; tugas yang ini belum juga selesai apalagi tugas yang itu, udah muncul lagi update tugas baru. jadinya numpuk-numpuk (apa memang dasarnya aku yang lelet ya?).

dan tibalah hari yang ditunggu-tunggu, hari pertama infantri. bukan awal yang baik memang, soalnya aku telat lebih dari 15 menit. semaleman begadang sih, jadi kesiangan. dicegat deh di gerbang sama komdis (komisi disiplin), disuruh knee up 20 kali. untungnya abis itu dibolehin masuk dan gak diapa-apain lagi.

gak mau cerita banyak ah, takutnya ada pihak-pihak yang gak suka aku cerita banyak-banyak. lagian, siapa tahu ada yang tahun depan bakalan masuk teknik ugm juga dan kebetulan baca ini. jadi gak seru lagi dong.

menurutku pribadi sih, gak seserem yang diceritain orang-orang. masih lebih serem ospek sma deh (no offense, you’re free to disagree). palingan yang bikin stress itu tugas-tugasnya. apalagi kalau kamu termasuk yang kinerjanya lelet kaya aku, siap-siap aja begadang bermalam-malam. percaya gak percaya, hampir tiga hari penuh aku gak tidur, kecuali sedikit ngigo-ngigo pas ngejain tugas. sampai-sampai banyak yang bilang mukaku kaya orang sakit. padahal, untungnya, aku gak sakit apa-apa. cuma sekarang ini lagi agak pilek nih. plus, ada satu hari penuh aku gak mandi sama sekali, dan berhari-hari gak mandi sore. padahal kaos infantri itu dipakai tiga hari penuh, dari pagi sampai sore, sampai malem malah, soalnya pulang dari ospek langsung ke rumah della buat ngerjain tugas. sampai-sampai idungnya udah kebal sama bau keringat, udah gak peduli lagi yang mana bau keringat siapa. yekh…

meskipun demikian, kata mbak rika dan mas taufan, tugas-tugas ini bakal berguna kok buat pemanasan, apalagi buat anak-anak arsitektur yang terkenal tukang ngelembur tugas. selain itu, off course, dengan begumul bersama 46 orang yang sama selama seminggu lebih, aku jadi bisa kenal baik sama temen-temen baruku, biarpun beda prodi sih. paling gak nambah-nambah kenalan. oya, berhubung ugm ini kampusnya udah terkenal banget ke seantero nusantara (cailah!), maka temen-temen baruku juga beraneka ragam nih. ada si vivin yang mengaku-ngaku bernama arifin–mungkin agar terdengar lebih jantan-atau lebih dikenal sebagai uda faisal yang asalnya dari padang, dan ada rima dan andi dan siapa lagi gitu (maap ye, lupa) yang asalnya dari riau, ada hendi-yang mirip eno netral-dari bali, juga ada najma dan nadia, orang-orang serang yang merasa aneh, kenapa anak-anak jogja begitu norak saling panggil aku-kamu, sementara kami anak-anak jogja agak gimana gitu mendengar mereka ngomong gue-elo. ada juga yang kulturnya kebalik, si aulia yang anak jakarta tapi sopan dan kalem, sementara si ayud yang orang solo tingkahnya cablak minta ampun. terus yonif ini juga mempunyai beberapa keanehan gender, ada yang cewek tapi tingkahnya sama sekali gak kaya cewek lah (ya si ayud itu tadi), ada juga cowok yang (katanya) kalo malem berubah jadi cewek, hehe, gak beres banget. bahkan waktu kapan itu si nadia bahkan sempet ditanyain komdis “kamu itu cewek apa cowok sih?”, soalnya ada peraturan yang mengharuskan cewek gak berkerudung untuk menguncir dua rambutnya, dan ada juga peraturan yang mengharuskan cowok untuk memotong pendek rambutnya. si nadia ini–yang kebetulan cewek tapi rambutnya terlalu pendek jadi gak bisa dikuncir, dan juga bukan cowok jadi ngapain juga dia potong pendek–gak melakukan keduanya. jadinya agak membingungkan. selain itu, terus bermunculannya ‘pasangan-pasangan’ sesama jenis di yonif ini semakin mempertidakjelas semuanya. kacau deh…

tapi biar gak jelas gitu, aku senang pernah berkenalan dengan mereka semua. aku jadi tahu, oo, kaya gini to, rasanya bergaul dengan orang-orang dari seluruh penjuru nusantara. perbedaan kultur yang dirasain, mulai dari urusan bahasa sampai kebiasaan, semakin membuka mata bahwa kita ini hidup di dunia gak sendirian. kita hidup bersama milyaran orang lain yang berbeda-beda bukan untuk saling membedakan, tapi untuk saling melengkapi satu sama lain dengan perbedaan itu. cailah, bahasanya…

ti-ga-li-ma, hu-ha-hu-ha-hu!

ti-ga-li-ma, hu-ha-hu-ha-hu!

sintuwu, mmmuaachh!!!

sori ya, kalo selama semingguan ini kita bersama, aku banyak bikin salah atau udah bikin kalian gak enak hati,

I’ll miss you all friends!

h1

geblek!!!!

August 14, 2008

dasar geblek, belum juga jadi mahasiswa beneran, gebleknya udah keliatan.

jadi, tanggal 12agustus kemaren itu ada registrasi mahasiswa baru di gedung pusat. geblek #1: gak tahu di mana letak gedung pusat. jadi waktu itu kita (aku dan seorang teman yang menebengiku sampe muterin graha sabha, ternyata ya cuma di sebelah utaranya, ketutupan perpustakaannya fisipol. geblek #2: kita gak tahu jalan keluar dari situ. pas mau pulang, kita keluar dari jalan kita masuk ke situ, padahal itu sebenernya jalan satu arah. diteriakin deh sama pak satpam “woi, itu jalan satu arah, mbak!”. huehuehue, ya maap pak, namanya juga bukan jalan umum, mana pernah kan kita lewat situ…

tapi geblek #1 dan #2 itu belum seberapa lah, karena masih bisa dikategorikan ‘geblek bersama’ yang berarti bukan semata kesalahan diriku seorang. nah, geblek #3 nih, luar biasa. jadi, pas registrasi nih, ada berkas-berkas yang ditinggal di sana (di t.u. lah, istilahnya), ada juga berkas-berkas yang harus diminta lagi seperti ijazah, skhun, dsb, termasuk bukti pembayaran yang j-u-t-a-a-n yang kita dapet dari bank itu. nah, di sinilah letak kegeblekan terbesar abad ini, aku gak sadar kalo bukti pembayaran itu harus diminta lagi (tweeng-tweng-twe-we-we-we-weeng)… entah gimana… padahal temenku yang nebengin aku itu tadi, yang ngumpulin berkasnya juga bareng aku aja sadar… mungkin keselip di antara berkas-berkas yang ditinggal di sana… mungkin juga enggak… aku gak yakin… semoga memang ketinggalan di sana, jadi kesalahan bukan hanya milik diriku seorang, alias mungkin pak petugasnya juga lupa kan? bisa aja… (ngeles aja nih…)

nah, sialnya, masalahnya gak selesai sampai di situ aja. ternyata, jeng-jeng-jeeeng… bukti pembayaran itu memang masih diperluin, buat ambil jas almamater tadi pagi. geblek#4 yang adalah yang paling geblek di antara kegeblekanku selama ini adalah, aku baru sadar kalo bukti pembayaran itu gak ada di mapku pagi ini juga, di tempat pengambilan jasnya, di depan fotokopian, pas mau fotokopi berkas-berkas buat ambil jas itu…

memang gak ada kata lain yang lebih pantas,

dasar geblek,

atau slebor mungkin juga bisa, tapi kedengerannya kurang enak, slebor kan adanya di deket ban, buat tedeng biar kita gak kecipratan kalo naik sepeda atau motor…

tetep geblek yang paling oke.

halah, mung dadi wong geblek wae bangga…

untungnya mas-mas dan mbak-mbak yang ngurusi pengambilan jas tadi sangat pengertian terhadap kekurangan diriku yang paling mendasar ini, jadi aku tetep boleh ngambil (soalnya kayanya hari ini memang hari terakhir pengambilan…), tapi nama dan nomer hapeku dicatet. nah, sekarang nih, yang paling penting, in case, suatu saat memang aku ditagihin bukti pembayaran itu, gimana caranya bisa dapetin bukti pembayaran itu lagi ya…? kalau minta lagi di bank-nya bisa gak ya? lha ini urusan duit j-u-t-a-a-n je… masa mau disuruh bayar lagi sih, yang bener aja…