Archive for the ‘hot issue’ Category

h1

kampanye pemilu…

April 3, 2009

gak mau ngomong soal politik kok, toh aku gak ngedong juga

cuma mau komentar, kemaren itu, aku diajak ibuku ikutan kampanye partai sesuatu, dan yang bikin kaget, ternyata ada upahnya!!!!

dipikir-pikir, masuk akal juga sih, wong demo aja ada yang dibayar… tapi… aku baru tahu, kalo liat ada  acara rame-rame kampanye yang suka ditayangin di berita-berita itu bukan seratus persen para partisipannya aja yang ikut nonton dan sorak-sorak ya,

ternyata, demi uang beberapa puluh ribu… mereka rela panas-panasan, desek-desekan, ditingkahi musik dangdut…

astaga…

balik lagi, ke soal ajakan tadi, jelas lah, aku tolak,

soalnya, beberapa jam sebelumnya, di kelas mekanika teknik, dosenku udah wanti-wanti

pokoknya kalo saya sampe ketemu ada mahasiswa saya yang ikutan kampanye, bakal saya kasih nilai e nanti…

khekhekhe…

bicara soal kampanye dibayar

ternyta, tetangga-tetanggaku itu kebanyakan kalo ikutan kampanye emang cuma biar dapet imbalan

ada partai a orasi sambil bagi-bagi sembako, rame-rame ikutan

ada partai b kampanye bagi-bagi duit, berbondong-bondong ikutan

dan sebagainya…

ternyata…

omong-omong soal pemilu

udah pada tahu mau nyontreng apa?

bingung nih, banyak banget orangnya

kasihan para simbah-simbah yang penglihatannya udah gak oke…

bisa-bisa gak luber jurdil ntar…

h1

aye-aye captain! (part2-end)

October 24, 2008


we are andreas faludi!
_dari pojok kanan bawah: mas jamel, mbak lulu, aku, (berdiri) sekar, sari, hendro, april, amek, asep, dhita, (atas) alifa_

cerita soal ospek memang gak pernah ada abisnya. sebanyak apapun kita udah ngalamin, tiap ospek tetep punya unforgettable moments-nya sendiri…
dulu, di sma, pertama kalinya seumur hidup, ngalamin yang namanya ospek dibentak-bentak, disuruh yang aneh-aneh, dikerjain, tugas seabrek-abrek sampe nginep-nginep, pokoknya the real ospek lah pplb di sma itu.
terus pas masuk kuliah, waktu beredar gosip yang ospek anak fakultas teknik tuh berat dan keras, sempet keder juga. dipikir-pikir memang masuk akal kalau ospek buat fakultas ini dibuat berat. secara kehidupan sehari-hari mereka kan berat juga. mana isinya juga memang kebanyakan cowok, jadi wajarlah… tapi tetep, dibandingin ospek sma, ospek fakultas mah lewat…
apalagi ospek jurusan kemaren ini. sebenernya, jurusan-jurusan lain udah pada ngadain ospeknya persis habis ospek fakultas, jadi sebelum puasa. tapi, berhubung kakak-kakak angkatanku kayanya lagi pada banyak urusan, jadi diundur sampai habis lebaran. tadinya sempet mikir juga sih, jangan-jangan, ospek jurusannya bakal berat nih, pake acara diundur abis puasa segala…
kenyataannya sama sekali gak. gak ada berat-beratnya. capek sih iya, begadang sih iya, tapi sama sekali no pressure. santai aja…
jadi ospeknya tuh namanya FASAD; forum keakraban archiplan dalam satu tekad. dinamain archiplan soalnya di jurusan arsitektur dan perencanaan memang ada dua prodi: arsitektur dan planologi (perencanaan wilayah dan kota, atau kita nyebutnya pwk aja). acaranya dari hari jumat (17okt) sampe minggu (19okt). tapi udah ada tm dari hari senin, tentang tugas-tugas pra ospek. kita dibagi-bagi jadi beberapa kelompok, rata-rata satu kelompok isinya lima/enam anak arsitektur, lima/enam anak pwk, dan dua pemandu dari angkatan ‘07 (tapi dua anak pwk kelompokku kabur entah ke mana dua hari terakhir ospek). setelah, berunding singkat, diputuskan, secara sepihak, bahwa asep jadi ketua dan aku jadi bendahara (huahahaha, gak jelas banget…). terus ada pembagian tugas. tugasnya juga ada tiga macem, buat anak arsi sendiri, anak pwk sendiri, dan tugas kelompok plus bikin atribut.
sebenernya, tugas buat anak arsi gak gitu berat sih. tapi, berhubung kita kebanyakan wasting time dan ketiban sial melulu, tugasnya jadi gak selesai-selesai. sampe malu sama yang anak pwk. keliatannya aja tugasnya tuh banyakan mereka, tapi kok malah kita yang gak selesai-selesai. habisnya, waktu disuruh gambar sketsa jalan kita salah nangkep. harusnya sepanjang jalan kenangan itu dibagi rata buat enam anak arsi dalam satu kelompok, jadi tiap anak dapet satu lembar. tapi berhubung kita lebih mentingin ke-proporsional-itas-an, kita cuma bagi jadi empat lembar. jadi sehari sebelum ngumpulin tugas itu kita ngulangin dari awal, hehe…
tapi overall, tugas pra ospeknya beres sih, atribut berupa notebook dan name tag yang dibikin sesuka-suka itu bisa selesai, tugas individu juga tuntas, palingan cuma si asep aja yang disuruh ngulang. pokoknya aman deh…
selama ospek berjalan pun tak banyak halangan berarti…
hari ke dua jalan-jalan ke malioboro, ke pasar disuruh belanja aneh-aneh, panas-panas, pulangnya hampir kehujanan. gara-gara itu, april sakit…tapi gak parah sih, kayanya…
hari itu juga kita dikasih tugas buat besoknya, harus siap kostum buat besok kompakan sekelompok… tau-tau ada yang nyeletuk,‘gimana kalo pake kostum tahanan aja?’. dan entah gimana semuanya setuju aja (udah pada males mikir kali)…
maka malemnya… pada belanja kaos putih sama cat semprot buat bikin garis-garis tahanan itu. tadinya kirain mau beli kaos apaan, pake duit segitu. ternyata, apa coba, mereka beli kaos putih yang biasa dipake bapak-bapak buat daleman baju itu…!!! yang merk swan itu…!!!
sampe speechless
ya udahlah, mau gimana juga kaos itu udah harus jadi besok paginya. maka begadanglah kita (kita? mereka aja kali, gue enggak, hehe…) semaleman mengecat baju dengan cat semprot yang sialnya berwarna biru (yang item udah abis di tokonya), sembari berharap tidak turun hujan supaya besok paginya udah kering dan bisa dipake…
untungnya, besok paginya udah bisa dipake. begini ini nih, wujudnya, hasil kerja semalem suntuk…

_yang mana sih aku?_

dipake seharian, berlumur peluh dari berbagai macam kegiatan, outbond keliling kampus, ngesot sana-sini…
lalu hari itu kita juga ada lomba masak berbahan dasar jagung… kita (kita? mereka aja kali, gue enggak, hehe…lagi…) bikin lumpia isi jagung keju. entah judulnya apa, yang jelas, rasanya lumayan…

dan kata mbak lulu (pemanduku) paling duluan dihabisin sama ‘juri-juri‘nya…
lalu acaranya diakhiri dengan pensi…standar lah…
oh ya, pas hari terakhir yang disuruh pake kostum kelompok, ada kelompok yang ceritanya jadi korban kecelakaan…terus ada yang pake kostum pocong…mirip banget sama aslinya…keren…

yang bikin penasaran nih, apa emang pocong jaman sekarang suka bergaya yah? pake jam tangan segala…

_photos by hpnya amek

h1

the chronicles of lebaran

October 6, 2008

inilah misteri tak terduga yang senantiasa menderaku tiap tahunnya. mengenai betapa niat yang baik tak selalu diiringi jalan yang mulus. sungguh sebuah ironi ketika orang yang ingin berbuat baik justru menderita di tengah jalan (cailaah, bahasanya, kebanyakan baca laskar pelangi nih!). inilah kenyataan pahit yang harus kukecap, yang entah karena kebetulan macam apa, ada saja hubungannya dengan even akbar tahunan: lebaran.
mari kita flashback beberapa tahun. seingatku, rentetannya dimulai dua tahun lalu, ramadhan pas aku kelas dua sma. malam itu malam takbiran, seharusnya jadi malam yang syahdu ditingkahi kumandang takbir yang diseru segenap muslimin dan muslimah, tua maupun muda, di seluruh penjuru negeri. niatku sebenarnya sederhana saja seperti tahun-tahun sebelumnya: mengiringi anak-anak kecil di kampungku bertakbir keliling.
ini bukan hipos atau sok puitis, tapi pada dasarnya aku memang selalu senang mendengar gema suara takbir seperti ini setiap tahunnya. menutku even semacam takbir keliling seperti ini memang benar-benar pas untuk menyambut hari raya. benar-benar menggambarkan kegembiraan yang meruah atas kemenangan kita, kemenangan melawan musuh terberat kita: diri kita sendiri, yang dicokoli segala hawa nafsu dan emosi. senang mendengar riuhnya anak-anak kecil mengumandangkan seruan takbir, yang entah mereka pahami benar makananya atau tidak. yang penting bagi mereka adalah meneguhkan diri menyandang oncor dan segala macam lampion; dari yang berbentuk masjid berhias lampu warna-warni sampai onta raksasa yang benar-benar ditunggangi orang sungguhan (yang satu ini biasanya diletakkan di atas gerobak dan didorong/ditarik oleh para remaja atau orang-orang dewasa), dan berseru sesemangat mungkin mengumandangkan takbir, supaya gerombolannya memenangkan lomba takbir keliling. senang melihat antusiasme orang-orang menyambut hari raya berjejalan menontoni kami dari pinggiran jalan. senang mengetahui bahwa semangat kami tak pernah surut untuk melestarikan even tahunan penuh keriaan ini, betapapun sulitnya medan yang harus kami lewati, betapa pun ruwet dan ribetnya (karena jalanan macet) rute yang harus kami lalui, betapa pun tak bersabatnya cuaca. sekali senang, tetap senang, senang, senang.

Allahuakbar, Allahuakbar,
Laailaha ilallahu allahu akbar,
Allahuakbar, walillahilhamd…

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar,
Tiada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar,
Allah Mahabesar, dan segala puji hanya milik Allah…

benar-benar bikin merinding ya? kenyataannya, malam itu aku memang merinding betulan. bukaaan, bukan karena meresapi makna kalimat itu, tapi karena di tengah jalan badanku mendadak meriang.
aku tahu, badanku memang gak beres dan gampang sakit karena aku sering malas makan, terutama kalau gak suka lauknya ;p. dan kalau sakit datangnya memang suka dadakan dan di saat-saat tak diinginkan (kalau pas butuh banget alasan, badan malah segar bugar sehat wal afiat). tak terkecuali malam itu, saat aku dengan niatan tulus ikhlas (ho-o po? tenane…) berangkat dari rumah untuk menempuh ritual tahunan itu. tahu-tahu, belum juga sampai setengah rute, mataku berkunang-kunang dan tulang-tulangku rasanya mau mrotoli. untungnyaaa, masih bisa jalan terus sampai selesai. kalau gak, bisa mati malu kalau besoknya tersebar berita ada cewek pingsan karena gak kuat jalan mengiringi takbir keliling anak-anak di kampungnya.
besoknya, pas lebaran, pas mau berangkat mudik, baru terkuaklah misteri sebenarnya. penyakit macam apa yang tega mendera diri insan fitri yang baru saja merasa dirinya meraih kemenangan di hari raya itu. penyakit itu adalah yang dulu sempat mewabah dan menimbulkan kehebohan besar di seluruh dunia akibat banyaknya korban jiwa yang diakibatkannya. meskipun demikian kini telah ditemukan vaksinnya dan bahkan telah sejak lama negeri ini dicanangkan bebas dari ancamannya. tak lain tak bukan adalah varicella, alias cacar air, atau lebih kukenal sebagai: cangkrangen. ketularan siapa lagi kalau bukan makhluk tengil yang entah bagaimana ditakdirkan sebagai adikku itu.
sudah jadi kepercayaan turun-temurun di daerahku, kalau orang memang harus kena cacar sekali seumur hidup agar bisa kebal terhadapnya. sekali kena, gak bakal bisa ketularan lagi. kebanyakan orang bilang, semakin muda usia saat dia kena cacar, semakin baik, karena tak terasa sakitnya (beberapa tahun kemudian aku baru menyadari ketololan kalimat terakhir ini dan merasa bodoh karena percaya). waktu makhluk tengil itu sakit pas bulan ramadhan, aku sih santai-santai saja karena ibu bilang aku pernah kena cacar waktu masih bayi. nyatanya?
sampai sekarang aku tak pernah tahu, ibuku yang bohong atau tubuhku yang mengalami anomali. yang manapun yang benar toh gak penting juga. yang jelas. kena penyakit semacam ini di saat yang seharusnya jadi momen perayaan yang sudah lama ditunggu, deritanya jadi terasa berlipat.
apalagi mami dan babe tercinta keukeuh memaksaku tetap ikut mudik ke purworejo, walau dengan keadaan memalukan dan agak membahayakan orang lain ini. di mana-mana orang kalau sakit macam ini disuruh tinggal saja dirumah kan? diam di kamar, bahkan tak usah mandi, biar cepat sembuh dan tak menulari yang lain.
karena jengkel plus badan yang ngilu semua, aku jadi uring-uringan di sana. iyalah, tiap hari harus menghadapi ledekan sepupu-sepupu dan segenap handai taulan yang datang berkunjung ke rumah simbah. aku pun ngambek, gak mau keluar kamar, gak mau makan kecuali roti buat minum obat–perlu dicatat bahwa cacarku ini juga menyebar sampai tenggorokan, entah bagaimana, pokoknya rasanya perih buat makan.
akibatnya-untuk yang pertama kali seumur hidupku-aku pingsan di suatu pagi. sodara-sodara bilang tingkahku menyeramkan. aku merosot di kusen pintu sambil mendelik-mendelik. kenyataannya yang aku rasakan adalah, kepalaku pusing, pandanganku mengabur sampai akhirnya gelap total, padahal aku yakin aku masih sadar seratus persen. aku mendelik-mendelik karena aku panik, yang terburuk terlintas di kepalaku-bodohnya–adalah aku mendadak buta karena cacarnya merambat sampai ke mata (kalau merambat sampai tenggorokan saja bisa, kenapa gak mata juga?).
parah banget deh, ya sakitnya, ya malunya.
syukurnya cacarku ini hampir tak berbekas kecuali satu di pipi kanan dan beberapa di bagian yang tertutup, seperti di punggung. hikmahnya apa ya?
yah paling gak, aku bisa bersyukur karena aku cuma jadi buruk rupa sementara karena cacar. sementara pada saat yang bersamaan, salah seorang saudara jauhku jadi buruk rupa permanen karena tubuhnya terbakar, bahkan tak lama kemudian akhirnya dia meninggal. seram juga. semoga, semoga nasibku tidak setragis itu. alhamdulillah, sakitku masih tergolong bisa sembuh, hampir seperti semula malah.
next: mami sakit dan another ‘ashaming disease’.