Archive for the ‘foolicious’ Category

h1

hello there, have you watched this drama?

September 16, 2009

oookaaaay, it’s been a looong-loooong time ago since the last time I’d wrote any post here. and it seems like I almost forgot that I have a blog here.

did i? to be honest, I’m not agree. actually, I’ve been sneaking time here and there to get myself write. but alas, in fact, there’s no time at all left for me even just for have a proper sleep (lebaaaaaaiiii!!!).

no, I’m not being hyperbolic or what. yes, it’s true that we’ve just had a holiday for a month, about a few weeks ago. but for myself, I would never agree to admit that as a holiday. twenty-four hours, thirty day (if not more) time of work. ggaaaaahhhhh!!!!!! I would never do it again (except if it offers more salary, perhaps I’ll consider it ;p). and after that, just when the new year had started, all the new lecturer seemed to join a games called “how much more task could you fed through your student”. seriously, it’s a really deadly games (especially for us, the students, the objects).

anyway, since I (almost) have some more quality time to relax now, I try to find out what’s going on outside there (note: that “twenty-four hours, thirty day (if not more) time of work” included the “isolated from free time even just to watch news on tv” in it).

it’s so amazing how the world has changed so much in such a short time while I was not paying attention. some singer-actress has divorce with her musician-husband. and so on… and so on…

and also, I find a new drama that aired in south korea right now, called 아가씨를 부탁해. literally means ‘take care of the young lady’ but officially introduced as ‘my fair lady’.

lady66

I was so interested with this drama, because, 1). yoon eun hye is in it and 2). I thought it would be interesting to watch her plays another new character, the really different one if not the real opposite of her last character from her last drama, ‘the first shop of coffee prince’. I personally adore her character in coffee prince. she’s just so fit for it, that I had thought that eun chan is really her (okay, hyperbolic), or at least she has some ‘eun chan’-ism on her.

in my fair lady, she plays as kang hye na (or kang hae na, whichever), a chaebol, heir of the big kang san group. she is, for short, like you can call her as the girl version of gu jun pyo on boys before flowers. glamor, arrogant and harsh outside, but so fragile inside.

I won’t write the storyline here because I would have a difficulty in keeping my writing focus on topic. moreover, there are some other people who has more talent to do something like that out there, like someone here. or just watch online here, if you’re curious about this drama so much.

what I want to do now is commenting. so many people outside there criticize the actors and the actresses, how they’re not fit with the character, how bad the acting, how weird their hair do, etc. I personally think they could handle their role pretty well.

yoon eun hye on my fair lady

and yoon eun hye is ok. nothing’s wrong with her, especially with her hair. in fact, I have that hairstyle on my head right now (minus the red color). perhaps, people just expecting too much on her, or they simply still have eun chan’s portrayal on her. perhaps, she just needs some adjustment. let’s give her some credits, folks, she’s been working so hard for that. you can’t deny that she’s progressing on the recent episodes, can you?

about the story itself, it’s just me or anyone notice that it resemblances a taiwan drama, ‘corner with love’? the characteristics, the relationship, even the first-meeting-scene of the two main characters is similar. well, of course not so similar like, say, hana yori dango and boys before flowers, which is indeed intentional. I just say that they do have some similarity, but not exactly same. speaking of which, would the end of the story be similar too? I don’t know, but I kinda have a vision about how the story would end (like everybody else doesn’t).


photos taken from dramabeans.com

(btw, i’m sorry if my english irritating you; this is the first time ever for me to write my post full in english, of course there’s a lot of mistake here and there, so thanks for your understanding)

h1

the chronicles of lebaran (part 2-end)

October 23, 2008

di tahun yang sama nih, sebenernya ada musibah lain lagi, yang kejadiannya sebelum aku sakit. jadi, somehow, pas bulan puasa mami tuh menstruasinya lamaaaaaaa banget, udah gitu banyaaaak banget, sampe lemes-lemes. bayangin aja, kadar hb darahnya cuma 4.5, padahal normalnya tuh antara 9-12. makanya harus opname dan ditransfusi gitu. berhubung mami kan termasuk petugas pemberantas jentik-jentik nyamuk dalam rangka psn-dbd (pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah) nasional, mami jadi punya semacam jaminan kesehatan sosial gitu deh. akan tetapi… cuma bisa dipakai di kelas tiga rumah sakit pemerintah. huaduhhh, mana rumah sakit pemerintah terdekat itu, kelas tiganya ya kondisinya ala kadarnya banget… tapi mami tetep ngotot. kan sayang, ada kesempatan berobat gratis kok disia-siain, apalagi bentar lagi lebaran kan…banyak kebutuhan…

__padahal aku mikir, banyak kebutuhan apa coba. aku sendiri bukan tipe orang yang tiap lebaran harus beli baju baru. makanan juga tiap tahun selalu ada kiriman dari sodara (hehe, ngandelin orang lain banget ya…), apalagi sih? buat kasih salam tempel? sempet ya????__

singkat kata, mami akhirnya opname di rumah sakit itu. kasihaan deh, rasanya, ngeliat mami “berjuang” untuk sembuh di situ. abisnya, ngeliat tempatnya aja, orang bukannya makin seger malah makin sakit. parah deh. makanannya itu… masa cuma nasi lauk kacang panjang rebus, dan telur rebus, tanpa rasa, plain, tanpa warna… apa-apaan, pantesan aja mami gak doyan makan. makan yang enak-enak aja belum tentu doyan, apalagi yang begituan…

untungnya, setelah sempet di-kuret-atau-apalah-namanya, selesai juga menstruasinya mami. kata dokternya, sakitnya mami cuma masalah ringan aja, cuma karena ada gumpalan sisa-sisa mens di rahimnya mami, semacam itulah… gak ngerti… makanya aku gak pernah tertarik masuk kedokteran…

usut punya usut, sakitnya mami tuh karena sebelum mens mami kecapekan, bantu-bantu masak buat hajatan buka bersama se-rw, terus ngangkat-ngangkat beras sekarung (aje gileee… pantesan…).

kirain setelah itu mami sadar, gak usah sok-sok maksain diri, sok kuat, semua kerjaan dikerjain sendiri… eh… gak tahunya tahun depannya, pas bulan puasa juga, keulang lagi. kecapekan lagi. sakit lagi. opname lagi. transfusi lagi. astaga.

kali ini, dokternya nawarin, gimana kalo rahimnya mami diangkat aja. awalnya mami sempet yang rada kaget gitu. huaduh, sampe segitunya ya? tapi dipikir sana-sini, mami akhirnya sepakat. dilakukanlah cek macem-macem buat persiapan operasi. ternyata, kondisi jantungnya mami juga gak fit, bisa bahaya kalo dibius buat operasi, soalnya biusnya kan gak bius lokal aja. jadilah rencana operasinya mami diundur buat revitalize jantungnya mami. gak tahunya selama masa penguatan jantung itu, mami berangsur-angsur sembuh sendiri, dan mensnya berhenti. kata dokternya, ya udah, malah bagus. inti dari semuanya kan asal mensnya berhenti, udah habis perkara.

nah, puasa tahun ini nih, hampir aja kejadian yang sama terulang. gara-gara apalagi, kecapekan…meriang…aku sampe dikata-katain,‘makanya, ibunya tuh dibantuin ngerjain kerjaan rumah dong, jangan dibikin capek-capek..’. iya sih, kadang aku memang suka ninggalin kerjain rumah gitu aja, entah karena sibuk di sekolah atau capek ngerjain tugas… jadi feeling guilty nih…

untungnya gak nyampe segitunya. cukup diinfus semalem, tanpa nginep, dengan obat jalan dari dokter, mami bisa sembuh-sehat-segar-bugar seperti sedia kala dan siap merencanakan mudik yang tahun lalu dilewatin gara-gara lagi opname (bahkan aku sholat ied pun di halaman rumah sakit!).

musibah justru kembali menimpa diriku. waktu malem takbiran nih (ngerasa inget sesuatu?), seperti biasa, berangkat dengan hati riang gembira dengan niat tulus ikhlas mengumandangkan takbir, aku ngikutin anak-anak keliling kampung. belum juga setengah jalan, belum juga sampe di tempat lomba… tiba-tiba perut terasa mules tak terkira… ngeliat gelagatku yang pringas-pringis sambil megang perut, temen-temen cewek mulai menghampiri,‘kenapa? sakit perut? lagi dapet ya?’.

deeply inside my heart, i wish the problem was just that simple.

kenyataannya aku gak lagi dapet. aku tahu persis sakit apa itu. maka aku menggeleng. dan tak berapa lama, temen yang lain menghampiri dan bertanya dengan lugu bin polos,‘kamu kepingin boker?’

oh my god, yes, yes, YES. didn’t you know how much i want it? wasn’t it drown clearly on my face? I even wanted to scream it, louder, louder than anyone else did that moment!

dan maka dengan polos bin lugu pula, aku mengangguk.

lalu kutelepon babe. no matter where he was, what he did, harus, harus jemput aku saat itu juga, sebelum terjadi ‘tragedi’ apapun yang tak diinginkan.

seconds felt like weeks, minutes felt like years, the longer it was, the harder my struggle… felt like ‘It’ could happen anytime…

daaaan, akhirnya babe dateng juga. langsung tanpa ba-bi-bu, cukup basa-basi ‘da-dah’ sekenanya pada teman-teman, aku naik boncengan motor dan mengomando babe untuk segera tancap gas. sampai di rumah, huaah,… gak main-main, ternyata, aku kena penyakit paling memalukan nomer lima (nomer satunya cacar), yaitu, tak lain tak bukan, diare.

maka begitu selesai satu ronde, aku langsung cabut ke warung depan,‘buk, ada entrostop gak?’. betapa bahagianya ketika buknya bilang ada. aku langsung minta empat butir. kata ibuknya, minumnya dua butir langsung aja, biar langsung mampet. awalnya sih rada sangsi gitu. haa? dua butir? ada gak sih orang mati gara-gara overdose obat diare? tapi ternyata memang dosisnya bener segitu sih. ya udah.

dan benar saja, alhamdulillah, diare saya mampet. tak kambuh lagi barang sekali pun.

__pesan moral: kalau diare, minum entrostop DUA butir. dijamin ces pleng. (lhoh, kok ngiklan??? wah, harusnya dibayar nih sama produsennya…)__

dan saya bisa melalui lebaran dengan sedikit saja rasa mules di perjalanan mudik, namun tanpa akibat yang berarti, huahahahaahhahaha……

h1

the chronicles of lebaran

October 6, 2008

inilah misteri tak terduga yang senantiasa menderaku tiap tahunnya. mengenai betapa niat yang baik tak selalu diiringi jalan yang mulus. sungguh sebuah ironi ketika orang yang ingin berbuat baik justru menderita di tengah jalan (cailaah, bahasanya, kebanyakan baca laskar pelangi nih!). inilah kenyataan pahit yang harus kukecap, yang entah karena kebetulan macam apa, ada saja hubungannya dengan even akbar tahunan: lebaran.
mari kita flashback beberapa tahun. seingatku, rentetannya dimulai dua tahun lalu, ramadhan pas aku kelas dua sma. malam itu malam takbiran, seharusnya jadi malam yang syahdu ditingkahi kumandang takbir yang diseru segenap muslimin dan muslimah, tua maupun muda, di seluruh penjuru negeri. niatku sebenarnya sederhana saja seperti tahun-tahun sebelumnya: mengiringi anak-anak kecil di kampungku bertakbir keliling.
ini bukan hipos atau sok puitis, tapi pada dasarnya aku memang selalu senang mendengar gema suara takbir seperti ini setiap tahunnya. menutku even semacam takbir keliling seperti ini memang benar-benar pas untuk menyambut hari raya. benar-benar menggambarkan kegembiraan yang meruah atas kemenangan kita, kemenangan melawan musuh terberat kita: diri kita sendiri, yang dicokoli segala hawa nafsu dan emosi. senang mendengar riuhnya anak-anak kecil mengumandangkan seruan takbir, yang entah mereka pahami benar makananya atau tidak. yang penting bagi mereka adalah meneguhkan diri menyandang oncor dan segala macam lampion; dari yang berbentuk masjid berhias lampu warna-warni sampai onta raksasa yang benar-benar ditunggangi orang sungguhan (yang satu ini biasanya diletakkan di atas gerobak dan didorong/ditarik oleh para remaja atau orang-orang dewasa), dan berseru sesemangat mungkin mengumandangkan takbir, supaya gerombolannya memenangkan lomba takbir keliling. senang melihat antusiasme orang-orang menyambut hari raya berjejalan menontoni kami dari pinggiran jalan. senang mengetahui bahwa semangat kami tak pernah surut untuk melestarikan even tahunan penuh keriaan ini, betapapun sulitnya medan yang harus kami lewati, betapa pun ruwet dan ribetnya (karena jalanan macet) rute yang harus kami lalui, betapa pun tak bersabatnya cuaca. sekali senang, tetap senang, senang, senang.

Allahuakbar, Allahuakbar,
Laailaha ilallahu allahu akbar,
Allahuakbar, walillahilhamd…

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar,
Tiada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar,
Allah Mahabesar, dan segala puji hanya milik Allah…

benar-benar bikin merinding ya? kenyataannya, malam itu aku memang merinding betulan. bukaaan, bukan karena meresapi makna kalimat itu, tapi karena di tengah jalan badanku mendadak meriang.
aku tahu, badanku memang gak beres dan gampang sakit karena aku sering malas makan, terutama kalau gak suka lauknya ;p. dan kalau sakit datangnya memang suka dadakan dan di saat-saat tak diinginkan (kalau pas butuh banget alasan, badan malah segar bugar sehat wal afiat). tak terkecuali malam itu, saat aku dengan niatan tulus ikhlas (ho-o po? tenane…) berangkat dari rumah untuk menempuh ritual tahunan itu. tahu-tahu, belum juga sampai setengah rute, mataku berkunang-kunang dan tulang-tulangku rasanya mau mrotoli. untungnyaaa, masih bisa jalan terus sampai selesai. kalau gak, bisa mati malu kalau besoknya tersebar berita ada cewek pingsan karena gak kuat jalan mengiringi takbir keliling anak-anak di kampungnya.
besoknya, pas lebaran, pas mau berangkat mudik, baru terkuaklah misteri sebenarnya. penyakit macam apa yang tega mendera diri insan fitri yang baru saja merasa dirinya meraih kemenangan di hari raya itu. penyakit itu adalah yang dulu sempat mewabah dan menimbulkan kehebohan besar di seluruh dunia akibat banyaknya korban jiwa yang diakibatkannya. meskipun demikian kini telah ditemukan vaksinnya dan bahkan telah sejak lama negeri ini dicanangkan bebas dari ancamannya. tak lain tak bukan adalah varicella, alias cacar air, atau lebih kukenal sebagai: cangkrangen. ketularan siapa lagi kalau bukan makhluk tengil yang entah bagaimana ditakdirkan sebagai adikku itu.
sudah jadi kepercayaan turun-temurun di daerahku, kalau orang memang harus kena cacar sekali seumur hidup agar bisa kebal terhadapnya. sekali kena, gak bakal bisa ketularan lagi. kebanyakan orang bilang, semakin muda usia saat dia kena cacar, semakin baik, karena tak terasa sakitnya (beberapa tahun kemudian aku baru menyadari ketololan kalimat terakhir ini dan merasa bodoh karena percaya). waktu makhluk tengil itu sakit pas bulan ramadhan, aku sih santai-santai saja karena ibu bilang aku pernah kena cacar waktu masih bayi. nyatanya?
sampai sekarang aku tak pernah tahu, ibuku yang bohong atau tubuhku yang mengalami anomali. yang manapun yang benar toh gak penting juga. yang jelas. kena penyakit semacam ini di saat yang seharusnya jadi momen perayaan yang sudah lama ditunggu, deritanya jadi terasa berlipat.
apalagi mami dan babe tercinta keukeuh memaksaku tetap ikut mudik ke purworejo, walau dengan keadaan memalukan dan agak membahayakan orang lain ini. di mana-mana orang kalau sakit macam ini disuruh tinggal saja dirumah kan? diam di kamar, bahkan tak usah mandi, biar cepat sembuh dan tak menulari yang lain.
karena jengkel plus badan yang ngilu semua, aku jadi uring-uringan di sana. iyalah, tiap hari harus menghadapi ledekan sepupu-sepupu dan segenap handai taulan yang datang berkunjung ke rumah simbah. aku pun ngambek, gak mau keluar kamar, gak mau makan kecuali roti buat minum obat–perlu dicatat bahwa cacarku ini juga menyebar sampai tenggorokan, entah bagaimana, pokoknya rasanya perih buat makan.
akibatnya-untuk yang pertama kali seumur hidupku-aku pingsan di suatu pagi. sodara-sodara bilang tingkahku menyeramkan. aku merosot di kusen pintu sambil mendelik-mendelik. kenyataannya yang aku rasakan adalah, kepalaku pusing, pandanganku mengabur sampai akhirnya gelap total, padahal aku yakin aku masih sadar seratus persen. aku mendelik-mendelik karena aku panik, yang terburuk terlintas di kepalaku-bodohnya–adalah aku mendadak buta karena cacarnya merambat sampai ke mata (kalau merambat sampai tenggorokan saja bisa, kenapa gak mata juga?).
parah banget deh, ya sakitnya, ya malunya.
syukurnya cacarku ini hampir tak berbekas kecuali satu di pipi kanan dan beberapa di bagian yang tertutup, seperti di punggung. hikmahnya apa ya?
yah paling gak, aku bisa bersyukur karena aku cuma jadi buruk rupa sementara karena cacar. sementara pada saat yang bersamaan, salah seorang saudara jauhku jadi buruk rupa permanen karena tubuhnya terbakar, bahkan tak lama kemudian akhirnya dia meninggal. seram juga. semoga, semoga nasibku tidak setragis itu. alhamdulillah, sakitku masih tergolong bisa sembuh, hampir seperti semula malah.
next: mami sakit dan another ‘ashaming disease’.